Logistik
Kesuksesan dari Tambang Sampai Pelabuhan
Waktu muat: petugas mengawasi Floating Transfer Unit (FTU) MBP yang baru dan mutakhir sedang memuat kapalnya di pelabuhan lepas pantai Taboneo.

Waktu muat: petugas mengawasi Floating Transfer Unit (FTU) MBP yang baru dan mutakhir sedang memuat kapalnya di pelabuhan lepas pantai Taboneo.

PT Adaro Logistics

Salah satu tantangan utama yang dihadapi Adaro pada saat awal beroperasi adalah transportasi dan logistik. Adaro Indonesia memiliki salah satu tambang batubara di Indonesia yang terletak jauh ke dalam wilayah daratan. Tambang ini berjarak 240 km dari lokasi transshipment di Taboneo, dan 80 km dari pelabuhan tongkang di Terminal Khusus Batubara Kelanis.

PT Adaro Logistics (AL) ditugaskan untuk berkoordinasi dan mengelola kegiatan logistik pada rantai pasokan Adaro. AL mengintegrasi beberapa unit bisnis logistik Adaro untuk meningkatkan nilainya sebagai penyedia jasa logistik pelabuhan ke pelabuhan bagi Adaro.

AL memberikan kontribusi yang signifikan terhadap rantai pasokan batubara Adaro yang terintegrasi, dimulai dari pemuatan batubara ke tongkang di Terminal Khusus Batubara Kelanis sampai mengangkut dan mengirimkan batubara di pusat atau pelabuhan bongkar.

Melalui rencana yang bersinergi, AL memperkuat proses bisnis dari pengangkutan tongkang dan transshipment, sampai operasi pemrosesan batubara di darat dan terminal pemuatan kapal, sampai manajemen pelabuhan untuk aktivitas bongkar muat dan transshipment di pelabuhan Taboneo, dan yang terakhir, sampai pengelolaan kapasitas alur sungai Barito dengan mengeruk alur sungai secara berkala. Bersama dengan fungsi bisnis Adaro lainnya, AL melakukan optimalisasi dan efisiensi dalam operasinya.

Visi AL adalah menjadi perusahaan logistik Indonesia yang andal dan efisien, dengan pengelolaan yang terbaik. AL bertujuan untuk memastikan penerapan standar kesehatan dan keselamatan yang tinggi dengan praktik lingkungan yang terbaik untuk meningkatkan bisnis sehingga nantinya akan bermanfaat bagi pemangku kepentingan dan masyarakat.

Sebagai penyedia logistik yang berfokus pada batubara, prospek AL dipengaruhi oleh prospek batubara. Adaro meyakini bahwa landasan bisnis batubara dalam jangka panjang tetap solid, namun Adaro tetap ingin meningkatkan aktivitas non pertambangan batubara misalnya logistik, jasa pertambangan dan ketenagalistrikan.

Terpisah dari industri batubara, prospek bisnis logistik di Indonesia cukup meyakinkan. Pemerintah telah mencanangkan sektor kelautan sebagai salah satu prioritas dan berencana untuk mendirikan pelabuhan dan alur perairan baru untuk menghubungkan pulau-pulau nusantara.

Karena hal ini, AL berencana untuk meningkatkan diversifikasi strategisnya ke material curah non batubara serta material lainnya yang terkait dengan industri minyak dan gas. AL akan mengambil langkah strategis tersebut untuk mengurangi ketergantungan terhadap industri batubara dan membuka peluang baru bagi pertumbuhan masa depan.

Lebih lanjut, akan dibutuhkan tambahan layanan tongkang dan kapal untuk mengangkut batubara ke pembangkit-pembangkit listrik domestik dalam lima tahun ke depan, karena pemerintah berencana untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik bertenaga batubara Indonesia sebesar 20GW.

Berikut ini adalah anak-anak perusahaan inti dibawah koordinasi Adaro Logistics dalam rantai pasokan batubara Adaro.
 

PT Maritim Barito Perkasa

PT Maritim Barito Perkasa (MBP) telah menjadi kontraktor utama Adaro Indonesia sejak tahun 2009 yang menyediakan armada modern kapal tunda, tongkang dan tongkang berbaling-baling dari Terminal Khusus Batubara Kelanis ke pelabuhan lepas pantai Taboneo dan ke Terminal IBT di Pulau Laut Selatan.

Selain itu, MBP mengangkut batubara Adaro Indonesia langsung ke pelanggan domestik. MBP juga melayani jasa angkutan batubara pihak ketiga.
 

Armada MBP terdiri dari 99 kapal, dimana 32 di antaranya disewa dari pihak ketiga dan empat unit berupa tongkang yang berbaling-baling dan satu unit tongkang bahan bakar minyak. MBP mengoperasikan tongkang dengan kapasitas total 503.000 dwt, setara dengan kapasitas tahunan sebesar 45 Mt jika semua tongkang digunakan untuk transshipment di Taboneo.

Di tahun 2015, armada MBP terdiri dari 95 unit tongkang dan kapal tunda, dimana 24 di antaranya disewa jangka panjang, dan empat unit tongkang bermotor. Total kapasitas tongkang MBP mencapai 514.200 DWT, mewakili kapasitas tahunan 46 juta ton berdasarkan siklus Kelanis-Taboneo.

MBP menambah empat tongkang dan tiga kapal tunda pada tahun 2015. MBP berencana untuk menambah dua kapal tunda dan satu tongkang dengan kapasitas 15.500 DWT pada tahun 2016.

Pada tahun 2015, MBP mengangkut batubara sampai 31,1 juta ton, atau turun 2% dari tahun 2014. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29,6 juta ton merupakan batubara AI dan SCM, atau turun 3%, sementara batubara pihak ketiga turun 30% menjadi 1,5 juta ton. MBP melakukan transshipment terhadap 35,8 juta ton batubara di Taboneo, atau turun 3% dari tahun 2014. Dari jumlah ini, MBP memuat 23,5 juta ton ke kapal dengan menggunakan derek apung (floating crane) dan 11,6 juta ton dengan floating transfer unit (FTU).

Secara total, 95% batubara yang ditongkang MBP dan 100% transshipment batubara MBP di tahun 2015 adalah milik Adaro.
 

Tim Manajemen

Pepen Handianto Danuatmadja, Presiden Komisaris
Christian Ariano Rachmat, Komisaris
M. Syah Indra Aman, Komisaris
Alan Yim Foon Kuan, Presiden Direktur
Susanti, Direktur
Chin Sik Cheon, Direktur

2011 2012 2013 2014 2015
Ringkasan Kinerja Keuangan (AS$ jutaan)
Total Aset 152,9 221,4 244,3 316,2 284,9
Total Kewajiban 139,8 170,6 153,0 176,2 130,9
Utang Berbunga 130,6 156,0 141,6 160,5 117,1
Total Ekuitas 13,1 50,8 91,3 140,0 154,0
Pendapatan Bersih 92,0 135,5 123,4 146,7 144,7
Data Statistik Operasional
Batubara yang diangkut dengan tongkang 15,8 22,5 27,4 31,8 31,1
Batubara yang dimuat ke kapal 13,6 15,6 20,8 37.1 35,8
 

PT Sarana Daya Mandiri

PT Sarana Daya Mandiri (SDM) melakukan pengerukan alur sungai Barito sepanjang 15 km secara berkala untuk menjaga kelebaran dan kedalaman alur serta memastikan bahwa alur aman untuk dilewati dan dapat dinavigasi selama 24 jam di sepanjang tahun.

Sejak pertengahan 2015, pengerukan dan pemeliharaan alur dilakukan menggunakan kapal keruk Barito Equator yang berkapasitas 2.500 m3, lebih besar dari kapasitas kapal keruk sebelumnya yang hanya mencapai 2.150 m3, yang digunakan sejak tahun 2012. Pada tahun 2015, pengerukan dan pemeliharaan menghasilkan mean low water springs minus 6,30 meter.

adaro

Batubara diangkut dengan tongkang melalui mulut Sungai Barito, dalam alur yang digali dan dipelihara oleh SDM.

SDM juga aktif dalam memantau lalu-lintas dengan radar, yang bukan hanya menghitung kapal-kapal yang menggunakan alur menuju Taboneo, melainkan juga lalu-lintas ambang sungai ke dan dari pelabuhan Trisakti di Banjarmasin yang berjarak 30 km ke hulu.

Sejak dioperasikan selama 24 jam per hari pada tahun 2009, kapasitas alur ini tidak lagi dibatasi. Sebelumnya alur tersebut hanya dapat digunakan selama 8 jam pelayaran dalam sehari dalam kondisi air pasang.

Melalui layanan-layanan tersebut, SDM telah membantu meningkatkan keamanan pelayaran di sepanjang alur ini, sehingga memungkinkan kargo dengan volume yang lebih besar untuk ditransportasikan dari dan ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Hal ini secara tidak langsung membantu pembangunan ekonomi daerah.

Penurunan harga batubara global berdampak terhadap lalu lintas di Sungai Barito: total volume batubara yang diangkut turun signifikan dari 98,6 juta ton di tahun 2014 menjadi 88,1 juta ton di tahun 2015, atau 11%. Angka ini 4% lebih rendah daripada target yang ditetapkan sebesar 92 juta ton.

Jumlah kapal yang melalui alur tersebut (termasuk kapal tunda dan tongkang) yang terpantau oleh SDM juga turun dari 15.338 kapal di tahun 2014 menjadi 14.023 kapal di tahun 2015.
 

PT Indonesia Bulk Terminal

PT Indonesia Bulk Terminal (IBT) adalah perusahaan pengelola pelabuhan yang memiliki sertifikasi International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code. Terminal batubara tersebut terletak di ujung selatan Pulau Laut di sebelah tenggara Kalimantan Selatan.

Terminal ini berkapasitas 12 juta ton per tahun dan berbatasan dengan Laut Jawa dan perairan dalam Selat Makassar, menjadikannya pelabuhan yang ideal untuk jalur pelayaran utama domestik maupun internasional.

IBT menawarkan jasa pemuatan batubara ke kapal dan menyediakan stockpile untuk pencampuran batubara sesuai permintaan pelanggan. Di tahun 2015, total pemuatan batubara oleh IBT mencapai 0,3 juta ton, yang terdiri dari 199.842 ton batubara Adaro dan sisanya sebesar 132.538 ton merupakan batubara milik pihak ketiga.

Salah satu inisiatif bisnis baru yang diambil IBT pada tahun 2015 adalah pembentukan kerja sama strategis antara Adaro dengan PT Pertamina (Persero) di bidang infrastruktur, transportasi dan pasokan biosolar. Di bawah perjanjian yang ditandatangani pada bulan September, Pertamina menyewa dan menggunakan fasilitas penyimpanan BBM IBT yang terdiri dari empat tangki dengan kapasitas total 70.000 kiloliter dan dua jetti dengan kapasitas pemuatan 1,4 juta kiloliter/tahun.

Fasilitas penyimpanan BBM di Pulau Laut merupakan bagian penting dari operasi Adaro karena model bisnisnya yang terintegrasi secara vertikal memiliki kebutuhan BBM yang besar dan fleksibel di sepanjang rantai pasokan dari tambang sampai pelabuhan sampai ketenagalistrikan. Kerja sama baru ini menggantikan kerja sama pasokan BBM dengan Shell.

Di sepanjang tahun 2015, total bahan bakar yang dikeluarkan dari terminal IBT mencapai 735.818 kiloliter, terdiri dari 688.034 kiloliter oleh Shell dan 47.783,93 kiloliter oleh Pertamina.

Klik di sini untuk informasi rinci di IBT: IBT Port Information (PDF), IBT Vetting Questionnaire (Doc)
 

PT Indonesia Multi-Purpose Terminal

Pada tahun 2015, IMPT menerima wewenang dari Kementerian Perhubungan untuk beroperasi sebagai Badan Usaha Pelabuhan yang mengelola dan mengoperasikan terminal di pelabuhan lepas pantai Taboneo di mulut Sungai Barito, Kalimantan Selatan.

IMPT juga telah memperoleh ijin lingkungan dan sertifikat International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code. Perusahaan saat ini sedang mempersiapkan untuk operasi komersial.
 

PT Puradika Bongkar Muat Makmur

PBMM adalah perusahaan yang menawarkan jasa bongkar muat (stevedoring) di pelabuhan Taboneo. Pada tahun 2015, PBMM menangani 51,58 juta ton batubara, atau turun 9,2% dibandingkan 56,80 juta ton pada tahun 2014, terutama akibat menurunnya produksi batubara AI.

PBMM bertugas untuk melakukan perencanaan kebutuhan armada untuk mengangkut batubara ke kapal atau mengirim langsung ke pelanggan.

Berdasarkan destinasi dan volume batubara, PBMM menghitung kapasitas yang dibutuhkan dan menentukan jumlah yang dialokasikan kepada setiap kontraktor tongkang, termasuk MBP.

Baca lebih lanjut mengenai kegiatan operasional kami