Aset Pertambangan
Membangun Pertumbuhan Organik
Barisan dump truk raksasa yang siap untuk pengiriman menuju muatan berikutnya di tambang Tutupan. Ketertiban sama pentingnya dengan ketepatan pada operasi penambangan secara fisik Adaro Indonesia.

Barisan dump truk raksasa yang siap untuk pengiriman menuju muatan berikutnya di tambang Tutupan. Ketertiban sama pentingnya dengan ketepatan pada operasi penambangan secara fisik Adaro Indonesia.

Adaro Indonesia: Aset Pertambangan Adaro yang Utama

PT Adaro Indonesia merupakan anak perusahaan Adaro Energy yang utama. Adaro Indonesia memulai operasi komersial dari Envirocoal pada 1992 dari wilayah konsesi seluas 358 km2 di Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan di bawah naungan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dengan Pemerintah Indonesia.

Pada tahun 2015, Adaro memproduksi 50,4 juta ton Envirocoal dari tiga tambangnya: Tutupan, Wara dan Paringin. Adaro memiliki total sumber daya sebesar 4,9 miliar ton di konsesi ini, yang meliputi cadangan sebesar 873 juta ton (menurut kajian JORC tahun 2012).

Dalam 24 tahun terakhir, Adaro telah membangun reputasi sebagai pemasok batubara yang berkualitas, andal dan dapat dipercaya. Envirocoal, demikian merek batubara Adaro, yang memiliki karakteristik kadar polutan yang rendah, juga telah dikenal sebagai salah satu bahan bakar padat paling ramah lingkungan.

Para konsumen juga menikmati layanan kelas atas, dimana Adaro mengirimkan teknisi pembakaran ke lokasi mereka untuk memberikan panduan teknis dalam menggunakan Envirocoal.

Sampai saat ini Adaro Indonesia masih meliputi operasi penambangan batubara yang terbesar dalam naungan Adaro, yang terus mengejar pertumbuhan organik dari bisnis ini sesuai dengan permintaan pelanggan. Namun, selain pertumbuhan produksi, fokus perusahaan juga diberikan terhadap upaya untuk menjaga tingkat marjin yang sehat dari operasi penambangan batubara ini.

Tiga tambang dalam naungan konsesi Adaro Indonesia — Tutupan, Paringin dan Wara — memproduksi batubara sub-bituminus dengan kalori sedang antara 4.000 kkal/kg (gar) dan 5.000 kkal/kg (gar). Batubara Adaro Indonesia dipasarkan dengan nama Envirocoal, nama yang dipilih karena karakteristik kadar polutannya yang rendah. Envirocoal dikenal sebagai salah satu produk batubara dengan kadar abu dan sulfur yang terendah di dunia dan karakteristik ini membuat Envirocoal menjadi produk pilihan pelanggan.

Pada tahun 2015, penjualan Envirocoal oleh Adaro Indonesia mencapai 51,09 Mt, dimana sekitar 66% merupakan E4900. Artinya, Adaro Indonesia tetap merupakan kontributor terbesar terhadap pendapatan usaha Adaro, yang menghasilkan sekitar 90% dari pendapatan tahun 2015.

Dihadapkan pada tahun yang sulit akibat harga batu bara yang tetap bertahan di level rendah, pada tahun 2015 Adaro Indonesia memangkas produksi batu bara menjadi 50,4 juta ton, 9% lebih rendah dari tahun 2015. Seiring dengan itu, volume penjualan juga turun 8.3% menjadi 51.1 juta ton di tahun 2015.

Sejak kuartal empat tahun 2015,Adaro mulai menjual produk campuran antara batubara Wara dan Balangan. Produk ini mampu meningkatkan kualitas produk E4000 dan membuka pasar baru untuk kategori batubara dengan kandungan kalori rendah. Produk ini mendapatkan penerimaan yang baik oleh pelanggan di Cina dan India.

Adaro Indonesia masih menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan usaha Adaro, menyumbang sekitar 90% dari pendapatan Adaro tahun 2015. Adaro Indonesia menjual 34.1 juta ton Envirocoal tipe E4900 di 2015, atau sekitar 66% dari total penjualan, didukung oleh tingkat permintaan yang kuat dari Indonesia, Cina dan Spanyol untuk tipe batu bara ini.

Sejalan dengan program pengendalian biaya diseluruh grup Adaro, Adaro Indonesia mengurangi pengupasan lapisan penutup menjadi 261,5 Mbcm di tahun 2015, atau 17% lebih rendah dibandingkan 2014. Hal ini menyebabkan nisbah kupas menjadi 5.19x. Adaro Indonesia fokus pada optimisasi perencanaan penambangan agar dapat melakukan ekspansi produksi berbiaya rendah dan juga menjaga komitmen kami pada kesehatan dan keselamatan para karyawan dan lingkungan.

Adaro Indonesia mempekerjakan empat kontraktor pertambangan, termasuk PT Saptaindra Sejati (SIS) yang juga merupakan anak perusahaan Adaro. Anak-anak perusahaan diperlakukan sebagai kontraktor pihak ketiga agar mendorong terciptanya persaingan yang sehat antara anak-anak perusahaan dan para kontraktor pihak ketiga. Dengan menggunakan beberapa kontraktor, Adaro menciptakan medan persaingan yang adil, mendorong operasi yang efisien dan kinerja operasi yang baik.

Tiap kontraktor bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan, perlengkapan dan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melaksanakan penambangan di wilayah yang telah dialokasikan dan mencapai target produksi. Imbalan kepada kontraktor kontraktor didasarkan pada kinerja dan langkah-langkah efisiensi lainnya termasuk konsumsi bahan bakar dan siklus waktu pengiriman batubara. Grafik di bawah ini menunjukkan rincian kegiatan pengupasan lapisan penutup dan produksi batubara oleh para kontraktor AI.

Pada tahun 2015, Adaro Indonesia terus bekerja sama dengan para kontraktornya untuk meningkatkan proses bisnis dan mencari cara yang lebih baik dalam melakukan kegiatan operasional untuk mengendalikan biaya.
 

adaro

Adaro Energy menaungi dan memiliki opsi terhadap 12,8 miliar ton sumber daya dan 1,1 miliar ton cadangan batubara, yang seluruhnya ditentukan berdasarkan standar JORC (2013).

Pertambangan Batubara dan Pemidahan Lapisan Penutup
Tutupan adalah tambang terbesar Adaro Indonesia yang memproduksi sebanyak 41.97 juta ton batubara di tahun 2015, turun 4% dari 2014. Pada tahun 2015, terdapat banyak permintaan atas produk E4900 yang berasal dari Tutupan. Produksi tambang Wara turun 48% tahun ke tahun menjadi 2.97 juta ton dan produksi dari Paringin turun 11% menjadi 5,41 juta ton.

Pengupasan lapisan penutup di Adaro Indonesia berkurang yang menyebabkan nisbah kupas turun menjadi 5,19x, lebih rendah dibandingkan 5,69x di tahun 2014. Meski demikian, Adaro Indonesia dapat mempertahankan cadangan batubaranya karena penyesuaian yang dilakukan pada rencana tambang jangka panjangnya. Investasi pemindahan lapisan penutup yang telah dilakukan Adaro Indonesia di tahun-tahun sebelumnya juga memberikan keleluasaan bagi kami untuk menurunkan nisbah kupas dalam kondisi pasar yang sulit ini.
 

Pengangkutan dan Pemuatan dengan Tongkang
Untuk meningkatkan waktu tempuh pengiriman batubara dari tambang ke terminal sungai, Adaro tetap melakukan investasi untuk pemeliharaan dan perbaikan jalan angkutan milik AI.

Terminal Khusus Batubara Kelanis, yang menangani seluruh aktivitas peremukan, penimbunan dan pemuatan tongkang, dapat beroperasi dengan lancar sepanjang tahun. Kapasitas tahunan Terminal Khusus Batubara Kelanis mencapai 60 juta ton berdasarkan kondisi operasi rata-rata.
 

Image

Fasilitas pemrosesan batubara dan pemuatan tongkang di Kelanis dilengkapi dengan tujuh pos pembuangan dan peremukan untuk memungkinkan pengiriman secara konsiten dan minimalisasi waktu tunggu truk.

Logistik Kelautan
Kami mengangkut batubara dengan tongkang baik untuk menuju fasilitas transhipment yang terletak di pelabuhan lepas pantai Taboneo untuk pengiriman ke pasar ekspor, atau ditongkang langsung sampai ke lokasi pelanggan domestik.

Pada akhir tahun 2015, kami memiliki 64 kapal tunda dan tongkang yang melayani AI, dibandingkan 68 set di 2014. Armada tongkang ini memiliki kapasitas rata-rata 12.431dwt.

Pada tahun 2015, Adaro melakukan 68% aktivitas pemuatan kapal di pelabuhan Taboneo menggunakan derek apung, 14% dimuat di Taboneo dengan menggunakan kapal yang dilengkapi derek sendiri dan 18% dikirim langsung ke para pelanggan domestik dengan menggunakan tongkang.

Adaro Indonesia mempekerjakan empat kontraktor untuk menangani pengangkutan dengan tongkang dan tiga kontraktor pemuatan kapal, termasuk MBP yang juga merupakan anak perusahaan kami. MBP menangani volume terbesar Adaro Indonesia selama tahun 2015, dengan mengerjakan 56% aktivitas tongkang dan 96% aktivitas pemuatan kapal. Pada tahun 2015, rata-rata waktu tempuh tongkang tercatat 88.5 jam, sementara waktu antrian kapal di Taboneo rata-rata mencapai 1.49 hari.
 

Tim Manajemen
Garibaldi Thohir, Presiden Komisaris
Christian Ariano Rachmat ,Wakil Presiden Komisaris
Sandiaga Salahuddin Uno, Komisaris
M. Syah Indra Aman, Komisaris
Chia Ah Hoo, Presiden Direktur
Budi Rachman, Direktur Operasi
David Tendian, Direktur Keuangan
Edwin Tsang, Direktur Pemasaran
Leonard Lembong, Direktur Services dan Strategi
Julius Aslan, Direktur

Batubara Adaro adalah jenis batubara sub-bituminus dengan tingkat energi moderat yang juga merupakan salah satu bahan bakar fosil terbersih di dunia karena kandungan abu, sulfur, dan nitrogen yang secara alami sangat rendah. Dengan karakteristik tersebut, batubara ini diberi merek dagang Envirocoal.

Batubara Adaro telah dipakai secara luas sejak tahun 1992 melintasi Eropa, Asia, Amerika, maupun di dalam negeri untuk sektor ketenagalistrikan, produksi semen, dan penggunaan industri di wilayah-wilayah yang menerapkan peraturan emisi lingkungan yang sangat ketat, ataupun dicampur dengan batubara lain yang umumnya memiliki kadar abu dan sulfur yang tinggi.

Hasil yang diberikan secara konsisten menunjukkan penurunan dampak lingkungan yang signifikan dibandingkan dengan penggunaan batubara pada umumnya.

Karena kualitasnya yang luar biasa, Envirocoal menawarkan manfaat ekonomis dan teknis melalui biaya pemeliharaan dan operasional yang rendah dan pada saat yang sama meningkatkan efisiensi pembakaran, penanganan abu dan pembuangan abu, sehingga Envirocoal menjadi batubara yang paling ramah lingkungan dan efektif dalam hal biaya.

Temukan rincian penjualan batubara di tahun 2015 di halaman Pasar dan Konsumen Adaro.

Spesifikasi Produk Envirocoal

Envirocoal 5000 Envirocoal 4700 Envirocoal 4000
Total Moisture (ar) 26% 30% 38%
Air dried moisture (ad) 14,5% 18% 20%
Gross CV (ar) 5.100 kcal/kg 4.700 kcal/kg 4.050 kcal/kg
Net CV (ar) 4.800 kcal/kg 4.363 kcal/kg 3.700 kcal/kg
Ash (ar) 2,0% 2,5% 3,5%
Total sulphur (ar) 0,1% 0,2% 0,25%
HGI 50 47 65
Carbon (daf) 73,8% 74% 72%
Hydrogen (daf) 4,9% 5,0% 5,0%
Nitrogen (daf) 0,9% 1,0% 1,0%
Oxygen (daf) 20,3% 19,8% 22,0%
Sulphur (daf) 0,1% 0,2% 0,32%
Initial deformation 1.200 C 1.200 C 1.150 C
Hemisphere 1.260 C 1.240 C 1.250 C
Flow 1,340 C 1,270 C 1,310 C
Sizing 0-50 mm 0-50 mm 0-50 mm
Klik di sini untuk PDF yang berisi spesifikasi rinci Envirocoal.
2010 2011 2012 2013 2014
Iktisar Keuangan (dalam AS$ juta)
Jumlah Aset 2.699,6 2.884,6 2.874,4 2.614,5 2.334,5
Jumlah Kewajiban 2.312,1 2.489,0 2.384,3 2.056,2 1.725,9
Utang Berbunga 1.629,7 1.806,9 1.688,2 1.363,0 1.223,9
Jumlah Ekuitas 387,5 395,6 490,2 558,3 608,6
Pendapatan Bersih 3.386,2 3.343,1 2.984,6 3.045,9 2.419,3
Statistik Operasi
Volume Produksi Batubara (jutaan ton) 47,7 47,2 52,3 55,3 50,4
Volume Penjualan Batubara (jutaan ton) 47,2 47,4 52,2 56,0 51,4
Pemindahan Lapisan Penutup (Mbcm) 299,3 331,5 294,9 314,9 2261,5
Nisbah Kupas Rata-Rata yang Direncanakan (x) 6,27 7,02 5,64 5,69 5,19
Beberapa tahun terakhir merupakan periode yang sulit bagi produsen batubara diseluruh dunia dimana kelebihan pasokan yang kronis serta tantangan makro – ekonomi telah menciptakan volatilitas di industri batubara. Adaro terus mengoptimalkan rencana bisnis strategis untuk mengatasi volatilitas ini dengan mengambil langkah-langkah terukur untuk menjaga dan meningkatkan nilai jangka panjang dan juga beradaptasi dengan penurunan siklus yang saat ini terjadi.

Kami terus memperbarui rencana tambang kami, mengoptimalkan cadangan batubara dan memaksimalkan nilai aset, dengan fokus pada terjaminnya pasokan dan peningkatan efisiensi pada kegiatan operasional yang ada. Aset utama kami saat ini sudah mencapai maturitas dan kami memiliki ruang yang terbatas untuk melakukan efisiensi biaya lebih lanjut, sehingga kunci bagi kami untuk tetap kompetitif dari sisi biaya adalah melalui peningkatan kinerja operasional bisnis kami.

Adaro Indonesia telah memprioritaskan langkah-langkah efisiensi biaya dalam menghadapi siklus menurun harga batu bara global. Penurunan tajam harga minyak mentah sejak akhir 2014 mengakibatkan 38% penurunan secara keseluruhan dari tahun ke tahun biaya bahan bakar AI menjadi sekitar 50 sen per liter. Selain itu, salah satu prioritas AI adalah mengurangi konsumsi bahan bakar dalam kegiatan operasional kami. Pada tahun 2015, kami berhasil menurunkan konsumsi bahan bakar per ton batubara yang diproduksi sebesar 11%.

Ke depannya, Adaro Indonesia akan memprioritaskan proyek-proyek perbaikan bisnis yang berfokus pada peningkatan efisiensi peralatan pertambangan yang ada serta mengurangi biaya produksi tambang.

Lebih jauh, untuk menghadapi penurunan siklus Adaro Indonesia juga telah menurunkan nisbah kupas, mengingat biaya tambang memiliki porsi yang signifikan pada biaya kas batubara Adaro. Kami sangat senang bahwa investasi kami di pengupasan lapisan penutup saat periode harga batubara tinggi telah membantu kami untuk menurunkan nisbah kupas selama masa sulit ini. Namun, AI terus melakukan kegiatan penambangan dengan nisbah kupas yang moderat untuk memastikan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. Kami tidak melakukan high grading untuk mengurangi biaya dalam jangka pendek.

Adaro Indonesia bekerja sama erat dengan para kontraktor penambangan untuk merealisasikan efisiensi produksi. Kami memiliki target untuk peningkatan produktivitas peralatan, dan ketersediaan truk pengangkut dan peralatan penambangan yang utama, Adaro Indonesia senantiasa berusaha mempertahankan biaya produksinya yang rendah dan meningkatkan efisiensi belanja modal. Kesulitan yang dihadapi industri saat ini merupakan peluang bagi Adaro Indonesia untuk menjadi perusahaan pertambangan yang lebih efisien lagi dan mengatur ulang profil biayanya demi meningkatkan daya saing ekspansi produksi di kemudian hari.

Dampak dari masa yang sulit ini pada cadangan batu bara Adaro Indonesia mengharuskan Adaro Indonesia untuk kembali berfokus pada pelanggan prioritas dan mengonsentrasikan pemenuhan permintaan batubara dari Indonesia dan dari pelanggan utama seperti Jepang dan Taiwan. Program pembangunan pembangkit listrik dengan kapasitas 35GW hingga 2019 yang digagas pemerintah Indonesia, sebesar 20GW akan menggunakan bahan bakar batu bara. Hal ini akan meningkatkan konsumsi batu bara domestik secara signifikan. Adaro Indonesia berkomitmen untuk mendukung program ini dan berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia.

Aset Pertambangan Lainnya

Dengan fokus untuk menciptakan nilai maksimum yang berkelanjutan dari batubara Indonesia dan menghasilkan pengembalian bagi para pemegang saham, Adaro telah menginvestasikan sekitar AS$955 juta termasuk belanja modal untuk mengakuisisi 16 konsesi batubara di Kalimantan dan Sumatera Selatan.

Adaro menerapkan strategi untuk berinvestasi pada aset yang besar, belum dikembangkan (greenfield), berbiaya rendah, dan berprospek untuk diperluas, yang akan mendiversifikasi produk, jatuh tempo perizinan serta lokasi. Strategi ini telah menciptakan landasan yang kokoh dalam bisnis pertambangan batubara Adaro.

Pada saat yang sama, aset-aset ini mendukung bisnis jasa pertambangan, logistik dan ketenagalistrikan, serta semakin memperkuat rantai pasokan batubara yang terintegrasi secara vertikal.

Walaupun semua kesempatan yang datang akan dipertimbangkan, perusahaan lebih menyukai untuk mengakuisisi deposit yang belum dikembangkan daripada tambang operasional, karena strategi ini dapat memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman khusus perusahaan untuk mengambil deposit dan mengubahnya menjadi aset jangka panjang yang menguntungkan.

Aset yang diakuisisi perusahaan mewakili kekuatan perusahaan sebagai ahli untuk batubara Indonesia peringkat rendah yang terletak jauh ke dalam wilayah daratan. Tiga kriteria utama yang dipentingkan perusahaan dalam suatu asset adalah lokasi, ukuran dan kualitas deposit. Walaupun tidak menentukan nilai minimum tertentu untuk sumber daya, perusahaan hanya tertarik dengan deposit yang dapat menghasilkan nilai yang besar.

Karena pengembangan konsesi greenfield yang besar meliputi banyak tantangan, Direksi mengambil pendekatan dengan disiplin yang ketat terhadap alokasi modal. Adaro mengeluarkan modal secara bertahap untuk menyiapkan konsesi untuk kesiapan tambang.

Investasi Adaro pada aset-aset batubara ini terutama mendukung ekspansi ke hilir untuk memasuki sektor ketenagalistrikan. Adaro yakin bahwa memiliki portofolio dari tambang sampai ke pembangkit listrik akan memberikan lindung nilai terhadap volatilitas harga batubara dengan menyediakan kepastian pasar bagi produk-produk batubara.

Meskipun pengembangan aset-aset ini memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan, saat ini Adaro dapat melihat arah yang lebih jelas bagi aset-aset tersebut, yaitu integrasi dari tambang sampai pembangkit listrik dengan membangun pembangkit listrik mulut tambang.

Expansi di Kalimantan Selatan

Pada bulan April 2013, kami melakukan ekspansi sumber daya batubara dengan mengakuisisi 75% kepemilikan atas tiga perusahaan dengan izin pertambangan batu bara (IUP) atas deposit batubara yang belum dikembangkan (greenfield) di kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, yang secara memiliki lokasi strategis di 11km arah tenggara konsesi Adaro Indonesia.

Dua IUP dimiliki oleh PT Semesta Centramas (SCM) dan PT Paramitha Cipta Sarana (PCS), yang memiliki ijin hingga tahun 2029, dan yang ketiga dimiliki oleh PT Laskar Semesta Alam (LSA), yang memiliki ijin sampai tahun 2034.Batubara Balangan memiliki nilai kalori antara 4.200 kkal/kg hingga 4.400 kkal/kg GAR dan memiliki karakteristik yang serupa dengan Envirocoal.

SCM memulai kegiatan operasional secara komersial pada paruh pertama tahun 2014. Melalui integrasi kegiatan pertambangan ke dalam rantai pasokan yang sudah dimiliki oleh AI, kami menghantarkan produk SCM ke pasar dengan belanja modal yang relatif kecil. Selain itu, kami mempekerjakan dua anak perusahaan Adaro, yaitu SIS dan MBP, untuk menangani seluruh aktivitas produksi dan logistik batubara SCM.

Pada tahun 2015, SCM meningkatkan produksi batubaranya sebanyak 25% menjadi 1.11 juta ton dibandingkan 0.89 juta ton pada tahun 2014. Pemindahan lapisan penutup meningkat 32% menjadi 5.50Mbcm, sehingga nisbah kupas aktual SCM meningkat 6% menjadi 4.95x dibandingkan 4.69x di tahun 2014.

Produk batubara SCM menerima sambutan baik dari pasar, dengan total volume penjualan yang mencapai 1,07 juta ton pada tahun 2015, meningkat 22% dari 0,88 juta ton pada tahun 2014.
 

Sumber Daya Batubara Balangan
IUP

Sumber daya
(Mt)

Total kelembaban
(wt% ar)

Abu
(wt% ar)

Zat terbang
(wt% ar)

Total sulfur
(wt% ar)

Nilai Kalori
(kcal/kg ar)

SCM 106 32,2 2,2 33,9 0,07 4.407
PCS 51 31,0 3,5 33,9 0,08 4.359
LSA 178 29,8 1,8 35,3 0,08 4.594

Ketiga IUP ini merupakan elemen penting dari portofolio batubara Adaro karena merupakan sumber tambahan batubara termal kalori rendah, di samping produk E4000 milik AI, dan juga mendiversifikasi portofolio perusahaan.

Rencana umur tambang, yang menjadi dasar estimasi cadangan batubara menurut JORC, telah dirampungkan untuk ketiga IUP yang dimiliki perusahaan-perusahaan di bawah naungan Balangan.

Kami akan terus berupaya untuk mengkonversi tambahan sumber daya batubara menjadi cadangan batubara menurut pedoman JORC. Secara bersamaan, pembebasan lahan telah dilakukan di LSA dimana konsesi ini diharapkan akan beroperasi secara komersil pada kuartal kedua tahun 2016.

 

Peta Lokasi
Pindah Adaro ke Sumatra

Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya batubara, yang meliputi sekitar 50% dari total sumber daya batubara nasional. Namun, produksi batubara di provinsi ini hanya meliputi 5% dari total produksi di Indonesia, terutama karena kesulitan transportasi dan logistik di wilayah tersebut.

Strategi Adaro Energy untuk mendiversifikasi bisnis batubara dan mengembangkanproyek penambangan batubara beserta sarana pendukungnya dengan skala yang besar di Sumatera Selatan melatar belakangi tiga investasi Adaro di propinsi ini yang dilakukan pada tahun 2011. Adaro mengakuisisi 75% kepemilikan di PT Mustika Indah Permai (MIP) dan 61.04% kepemilikan di PT Bukit Enim Energi (BEE) senilai AS$290 juta.

MIP memegang izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk konsesi batubara seluas 2.000 hektar yang terletak di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, yang dipandang Adaro sebagai daerah dengan pertumbuhan yang sangat strategis, terutama karena letaknya yang dekat dengan Pulau Jawa serta pusat populasi Indonesia lainnya.

BEE telah mendapatkan IUP pada bulan Maret 2011 dengan jangka waktu 20 tahun untuk area konsesi sekitar 11.130 hektar yang meliputi formasi Muara Enim yang mengandung batubara, sekitar 50 kilometer di sebelah Timur konsesi MIPdan sekitar 150 kilometer di barat daya kota Palembang.

Ketika mengakuisisi kedua tambang ini, Adaro sekaligus membeli 35% kepemilikan atas Servo Meda Sejahtera (SMS), perusahaan logistik yang memiliki jalan angkutan batubara dan pelabuhan pemuatan tongkang sendiri. Pada awal tahun 2014, Adaro melakukan divestasi sahamnya di SMS tapi tetap mempertahankan hak untuk menggunakan jalan angkutan yang dimiliki oleh PT Servo Lintas Raya serta fasilitas pelabuhan yang dioperasikan oleh PT Swarnadwipa Dermaga Jaya. Kedua perusahaan ini dikendalikan oleh SMS.

Perusahaan berfokus pada integrasi dari tambang sampai pembangkit listrik di Sumatera Selatan.

Melalui MIP, fokus Adaro adalah pengembangan rencana tambang yang berumur panjang, efisien modal dan efisien biaya operasi, yang akan memaksimalkan nilai sumber daya batubara. Sementara infrastruktur telah siap untuk memproduksi batubaranya, MIP juga cocok untuk diintegrasikan dengan pembangkit listrik bertenaga batubara karena sifat depositnya dan lokasinya yang relatif dekat dengan sumber air dan infrastruktur distribusi listrik yang direncanakan.

Nisbah kupas yang rendah dan kualitas yang konsisten dari deposit MIP membuat aset ini menjadi komponen yang berharga dalam portofolio aset pertambangan batubara Adaro.

Wilayah konsesi mengandung batubara sub-bituminus dengan karakterisitik tingkat energi sedang dan tingkat polutan rendah pada tiga lapisan batubara utama dan dua lapisan kecil yang tebalnya berkisar 8 meter sampai dengan 17 meter. Struktur ketebalan dan kontinuitas lapisan tampak konsisten di seluruh konsesi tanpa adanya patahan.

Pada tahun 2013, Adaro mengeluarkan laporan sumber daya dan cadangan, menurut kajian JORC pada tahun 2012, yang menunjukkan adanya batubara bernilai kalori 4.292 kkal/kg (gar) dengan total perkiraan sumber daya sebesar 287,5 juta ton dan cadangan sebesar 254 juta ton.

Pembangunan stockpile run-of-mine dengan luas 1 hektar dan kapasitas 35.000 ton, fasilitas peremukan dengan kapasitas 750 ton per jam dan stockpile peremukan batubara dengan kapasitas 60.000 ton juga telah selesai dibangun.

Adaro terus mempersiapkan MIP untuk kesiapan penambangan dan dilanjutkan dengan pekerjaan geologi untuk BEE.
 

Sumber daya dan Cadangan Batubara MIP

Total (Mt)

Total kelembaban (%)

Abu (% gar)

Total Sulfur (% gar)

Nilai kalori (kcal/kg gar)

Sumber daya 288 34,1 5,1 0,5 4.342
Cadangan 254 34,1 5,7 0,4 4.292

Di BEE, pekerjaan eksplorasi yang telah dilakukan sampai dengan akhir tahun 2012, yaitu pemetaan geologi permukaan dan pemetaan aerial topografi serta pengeboran sedalam 13.100 meter dan pengambilan sampel, menunjukan bahwa area konsesi memiliki batubara yang dapat ditambang di permukaan dalam lapisan yang tebal dan berkelembaban tinggi.

Hasil eksplorasi ini membuktikan bahwa akusisi terhadap BEE akan sangat sesuai untuk pasokan bahan bakar pembangkit listrik mulut tambang dalam jangka panjang sebagai yang digunakan untuk kepentingan Adaro dalam memenuhi strategi memasuki industri hilir berupa pembangkit listrik.

Eksplorasi lebih lanjut dilakukan oleh Adaro Eksplorasi Indonesia di tahun 2013 untuk mendapatkan data sebagai persiapan penyusunan laporan (menurut kajian JORC pada tahun 2012) diatas area sumber daya dan cadangan.

BEE dimiliki oleh Adaro Energy sebesar 61,04% melalui anak perusahaan PT Alam Tri Abadi, 20% dimiliki PT Pamapersada Nusantara, 13,92% PT Triputra Utama Selaras dan 5,04% PT Bumi Alam Sejahtera.
 

Peta Lokasi
 

Tim Manajemen

MIP
Garibaldi Thohir, Presiden Komisaris
Hasim Sutiono, Komisaris
Christian Ariano Rachmat, Komisaris
Sandiaga Salahuddin Uno, Komisaris
M. Syah Indra Aman, Komisaris
Chia Ah Hoo, Presiden Direktur
Ariya Somanatta, Direktur
Budi Rachman, Direktur
Andri Wijono Sutiono, Direktur
Freddy Hartono, Direktur

BEE
Garibaldi Thohir, Presiden Komisaris
Ir. Ellyus Achiruddin, Komisaris
Ir. Dadi Sukarso Yuwono, Komisaris
Ir. Bambang Susanto, Presiden Direktur
Ruli Tanio, Direktur
Eldy Ellyus, Direktur
 

Batubara Kalori Rendah di Kalimantan

Adaro saat ini memiliki 10,22% saham atas BEP, yang memiliki salah satu deposit batubara termal peringkat rendah dengan kadar polutan rendah yang terbesar dan belum dikembangkan, di Indonesia.

Pada tanggal 28 Mei 2012, Adaro menandatangani kesepakatan pinjaman konvertibel dan pemesanan saham (subscription) untuk memberikan pinjaman kepada BEP hingga AS$500 juta, yang dapat dikonversikan menjadi sampai 51% ekuitas atas BEP (Opsi Satu), dan kesepakatan opsi untuk mengakuisisi saham BEP dari pemegang saham pengendali dengan menawarkan saham baru yang dikeluarkan oleh Adaro (Opsi Dua).

Adaro membuat amandemen terhadap jangka waktu dua opsi ini dari tiga tahun menjadi empat tahun dan dengan demikian memperpanjang periode opsi sampai tahun 2016.

BEP yang didirikan pada tahun 2002 terletak di Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, sekitar 250km di sebelah utara kota Balikpapan dan 120km dari pesisir. BEP memiliki tujuh anak perusahaan yang masing-masing memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) atas wilayah sebesar hampir 34.000 ha.

Tujuh IUP tersebut meliputi deposit batubara termal yang berskala besar dan tak terputus dengan perkiraan sumber daya sebesar 7,96 miliar ton. Selama tahun ini, Adaro melanjutkan akuisisi lahan yang dibutuhkan untuk koridor angkutan BEP dan mempersiapkan BEP untuk kesiapan tambang.

Dengan sumber daya batubara yang berlimpah, BEP memiliki banyak alternatif untuk pengembangan. Dengan bekerja sama dengan divisi-divisi pengembangan bisnis, pemasaran dan teknologi pertambangan, dan dengan perusahaan terkemuka lainnya, Adaro berupaya menciptakan nilai dari batubara BEP dengan melakukan benefisiasi (peningkatan manfaat) batubara, yang di antaranya meliputi teknologi peningkatan batubara seperti pencairan batubara dan gasifikasi batubara, serta mengembangkan pembangkit listrik mulut tambang yang akan dapat memasok listrik ke PLN.
 

Adaro saat ini memiliki 10,22% saham atas PT Bhakti Energi Persada (BEP), yang memiliki salah satu deposit batubara termal peringkat rendah dengan kadar polutan rendah di Indonesia.

BEP yang didirikan pada tahun 2002 terletak di Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, sekitar 250 km di sebelah utara Balikpapan dan 120 km dari pesisir. BEP memiliki tujuh Izin Usaha Pertambangan (IUP) atas wilayah sebesar hampir 34.000 ha. Tujuh IUP tersebut meliputi deposit batubara termal berskala besar dan tak terputus dengan perkiraan sumber daya sebesar 7,96 miliar ton.

Pada bulan Mei 2012, kami menandatangani kesepakatan pinjaman konvertibel dan pemesanan saham (subscription) untuk memberikan pinjaman kepada BEP hingga AS$500 juta, yang dapat dikonversikan menjadi sampai 51% ekuitas atas BEP (Opsi Satu), dan kesepakatan opsi untuk mengakuisisi saham BEP dari pemegang saham pengendali dengan menawarkan saham baru yang dikeluarkan oleh Adaro (Opsi Dua). Kami melakukan amandemen memperpanjang periode opsi sampai tahun 2021.

Sumber Daya Batubara BEP

Total (Mt)

Total kelembaban
(%)

Abu (% gar)

Total Sulfur
(% gar)

Nilai kalori
(kcal/kg gar)

Resources 7,957 46.9 3.1 0.1 3,354

Sumber daya batubara yang besar memberikan berbagai alternatif pengembangan bagi BEP. Studi mengenai pengembangan BEP dilakukan oleh divisi pengembangan bisnis, pemasaran dan teknologi pertambangan. Studi yang dilakukan termasuk teknologi peningkatan batubara seperti nilai dari batubara BEP dengan melakukan benefisiasi (peningkatan manfaat) batubara, yang di antaranya meliputi teknologi peningkatan batubara seperti batubara ke zat kimia dan batubara ke gas, serta pengembangan pembangkit listrik mulut tambang yang akan dapat memasuk listrik ke PLN.

Sebagai langkah awal dalam pengembangan BEP, telah ditandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Lanjutan antara China Shenhua Overseas Development and Investment Co, Ltd. (Shenhua Overseas), BEP, dan AP untuk membentuk perusahaan patungan yang akan mengembangkan pembangkit listrik mulut tambang berbahan bakar batubara di Kalimantan Timur dengan kapasitas awal 2x300MW. Pembangkit listrik ini akan menggunakan batubara BEP dan akan menggunakan teknologi yang paling baru, paling efisien, dan ramah lingkungan.

Shenhua bermaksud untuk mengakusisi kepemilikan saham minoritas pada anak perusahaan BEP untuk pengembangan tambang batubara, serta untuk tujuan menyediakan pasokan bahan bakar bagi proyek ketenagalistrikan, yang tergantung dari hasil uji tuntas dan evaluasi. Studi pra-kelayakan yang komprehensif untuk pembangunan pembangkit tersebut telah diselesaikan.

Selama tahun 2015, kami melanjutkan akuisisi lahan yang dibutuhkan untuk koridor angkutan BEP dan mengalami kemajuan dalam studi kesiapan tambang BEP.
 

Peta Lokasi
 

Tim Manajemen

Garibaldi Thohir, Presiden Komisaris
Christian Ariano Rachmat, Komisaris
David Tendian, Komisaris
Mayjen Purn. Sutardjo, Komisaris
Irawan Indrarta Poerwo, Komisaris
Jeffrey Mulyono, Presiden Direktur
Crescento Hermawan, Direktur
Chia Ah Hoo, Direktur

Kerjasama Usaha Batubara Metalurgi

Proyek IndoMet Coal (IMC) menandai langkah pertama perusahaan di luar basisnya di Kalimantan Selatan. IMC merupakan perusahaan patungan yang dibentuk pada tahun 2010 antara BHP Billiton (75%) dan Adaro Energy (25%).

IMC meliputi tujuh Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang terletak di Kalimantan Timur dan Tengah dengan sumber daya batubara metalurgi yang belum dikembangkan sebanyak 1,27 miliar ton.

Batubaranya akan diangkut sepanjang jalan angkutan dari tambang ke pelabuhan sungai tersebut, batubara ditongkang menyusuri Sungai Barito untuk dimuat ke kapal konsumen untuk pengiriman ekspor.

Sepanjang tahun 2015, telah dilakukan studi infrastruktur, pertambangan, penanganan dan pengangkutan batubara serta program sosial dan lingkungan. Uji coba produksi dari area pertambangan Haju telah dilakukan, sebanyak 100.000 ton batubara berhasil diangkut ke area penyimpanan.

Pekerjaan ini merupakan langkah besar dalam pengembangan proyek dan uji coba produksi ini mengkonfirmasi hasil dari berbagai studi yang telah dilakukan hingga saat ini.
 

Peta Lokasi
 

Tim Manajemen

David Lyle Ruddell, Presiden Komisaris
Gideon Johannes Oberholzer, Komisaris
Edwin Gerungan, Komisaris
Garibaldi Thohir, Komisaris
Mark John Small, Presiden Direktur
Indra Diannanjaya, Direktur
Marc Delaney, Direktur
Stuart Wells, Direktur
Dina Durardi, Direktur
Joy Parker, Direktur
M. Syah Indra Aman, Direktur
Chia Ah Hoo, Direktur

Baca lebih lanjut mengenai kegiatan operasional kami